Browse By

Dialog Pedagang Sayur Dekat Bom Kampung Melayu

Dialog Pedagang Sayur Dekat Bom Kampung Melayu

Terjadinya bom bunuh diri di dekat Terminal Kampung Melayu, kepolisian terpaksa menutup arus lalu lintas fly over dari arah Casablanca menuju Kampung Melayu (Jurnas.com/ Naufal)

Jakarta – Dinihari waktu Jakarta, 25  Maret 2017. Ibu Rahayu pedagang sayuran di dekat Kampung Melayu, Jakarta Timur, tetap sibuk melayani pembeli. Begitu juga dengan rekan-rekan senasibnya yang mengadu hidup berjualan di kawasan itu yang kebanyakan pedagang sembako.

Dia tahu, beberapa jam yang lalu, persisnya pukul 21.00 waktu Jakarta, ada bom meledak yang jaraknya sekira 300 meter dari tempatnya berjualan. Dia sempat menghampiri tempat kejadian dan melihat-lihat keriuhan warga yang berteriak. Melihat polisi sibuk wira wiri di sekitaran Kampung Melayu.

“Kok masih ada aja orang yang pengen cepat mati dengan ngebom diri gitu ya,” tutur Rahayu yang usianya sekira 55 tahun kepada rekan sesama pedagang yang lapaknya bersebelahan.

“Iya. Nggak sadar dengan nasib anak sama keluarganya. Kita aja hidup susah begini berusaha bertahan hidup. Ini kok malah mau mati kayak gitu,” jawab rekannya.

Saya yang duduk-duduk sekitar kedua lapak itu, hanya bisa mendengarkan perbincangan kedua perempuan pedagang itu. Karena sebelumnya, saya yang lebih banyak bertanya dengan Ibu Rahayu. Dari soal harga sayuran menjelang puasa dan lebaran, hingga menjadi pedagang sayur yang dijabani setiap hari dan setiap pagi. Dia istirahat kalau tiba-tiba kurang sehat.

“Edan. Yang dibom kok halte bis yang banyakan penumpangnya hidup pas-pasan. Nggak mikir. Coba kalau yang dibom sendiri keluarganya,” tuturnya.

Rekan sebelahnya tertawa. “Jihad mau masuk surga,” ujarnya.

Ibu Rahayu ikut tertawa sambil menyirami sayuran dengan air. “Bukan masuk surga, tapi langsung masuk neraka. Pembunuh kok masuk surga. Kalo pembunuh tukang bom masuk surga, banyak yang jadi pembunuh.”

“Kalau ada dari keluarga ibu tahu jadi pelaku bom, bagaimana?” tanya aku iseng.

“Aku kalau ada keluarga jadi pelakunya terus mati, aku ludahi mayatnya terus aku nggak mau doaian, apalagi anterin ke kuburannya. Ogah,” tuturnya.

Aku dan rekannya tertawa mendengar jawabnya Ibu Rahayu yang kencang hingga beberapa pemilik lapaknya mendengarnya.  

TAGS : Ledakan Kampung Melayu Bom

This article is automatically posted by WP-AutoPost Plugin

Source URL:http://www.jurnas.com/artikel/16620/Dialog-Pedagang-Sayur-Dekat-Bom-Kampung-Melayu/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*